Tidak jarang kita mendengar meningkatnya pengangguran di sekitar kita, entah tingkat Lokal maupun tingkat Nasional ? Mengapa Hal ini terjadi ? banyak faktor yang mempengaruhi atau penyebab hal tersebut. Diantaranya, pendidikan yang diterapkan di negara masih berorientasi pada opini, bukan potensi yang ada pada diri peserta didik. Contoh klasik, pada tingkat SMA yang sering terjadi dalam hal pengambilan Jurusan, dimana pada tingkat SMA ini ada jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Tidak jarang terdengar di SMA Negeri sesorang mengambil Jurusan IPA itu bukan karena potensi, tetapi mereka beraalasan kelak jika akan melanjutkan mereka dapat meilih jurusan mana saja seperti jurusan yang di sediakan oleh perguruan – perguruan tinggi disekitr kita, yaitu jurusan rumpun IPA, IPS serta Bahasa,. Sedangkan Siswa yang dijuruskan di IPS hanya dapat mengambil lanjutan ke Jurusan rumpun IPS serta Bahasa, sedangkan Jurusan Bahasa seolah-olah hanya melanjutkan ke rumpun bahasa, ini semua melekat pada diri siswa, meskipun sudah di jelaskan berkali-kali tapi kalah dengan opini, sedangkan perguruan tinggi hampir seluruh Indonesia cuek-cuek aja, yang penting meraup duit sebanyak-banyaknya tapi mau tahu dengan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia.
Untuk sekolah – sekolah tingkat SMA Swasta, lebih banyak mengarahkan siswanya untuk mengambil jurusan IPS, dengan alasan lebih mudah untuk meraih kelulusan. Dengan kondisi demikian maka mutu manusia Indonesia sulit dikembangkan. Yang benar dunia pendidikan harus jeli dengan potensi dari manusia – manusia yang di kelolah, yangb merupakan Human Investmen bagi orang tua keluarga bangsa dan negara.
Dalam kesempatan ini penulis menghimbau kepada seluruh pengola pendidikan di ndonesia mulai Tingkat SMA hingga perguruan tinggi, mari kita perhatikan potensi generasi penerus bangsa ini dengan sebaik-baiknya seerta penuh kejelian. Janganlah banyak melakukan kesalahan dalam menggali potensi generasi bangsa kita. Sehingga munculah manusia – manusia yang berkualitas. Ingat dulu ketika Indonesia baru merdeka, dalam merekrut siswa yang masuk Jurusan IPA memang benar-benar pintar, bukan keinginan anak atau keinginan orang tua, tapi benar-benar pencerminan potensi anak. Kalau dilihat dai NUN yang diperoleh ketika SMP itu bukan pencerminanan potensi yang sebenarnya. Melainkan anak masih dalam keadaan labil.
Tidak jarang SMA – SMA Negeri mempunyai pendapat kalau siswanya yang dimasukan ke Jurusan IPA menunjukan kualitas pendidikan – nya bagus ! Kalau banyak yang tidak lulus ? apakah bagus ! maka dari itu mekanisme penjurusan itu janga berorientasi pada opini dan keinginan baik anak, orang tua bahkan gurunya sendiri. Kelola dengan baik, biar alam yang menentukan kualitas pendidikan. Trnasparansi nilai sangat penting bagi diri anak sehingga anak tidak dibawa oleh opini dan keinginan semata dalam menentukan pilihan jurusan.
Dalam dunia pendidikan memang masih banyak mengelola pendidikan di amsing-masing lembaganya, dengan secara konvensional. Guru tidak jarang hanya mengelola siswa dengan terbiasa dengan menggunakan oatak sebelah kiri. Jarang guru mengelola siswanya dengan menggunakan otak sebelah kiri, sehingga siswa banyak termakan dengan opini dan keinginan yang tidak sesuai dengan potensi diri siswa masing-masing.
Kenalkan diri potensi siswa, melalui potensi yang ada pada dirinya, jangan dibawa siswa ke alam opini serta keinginan yang gak wajar alias tidak sesuai dengan potensi yang ada pada diri siswa tersebut.